PURBALINGGA, kembangmekarnews.com — Warga Desa Karangjambu kembali dihebohkan dengan fenomena batuan unik di kawasan Igir Karem yang memunculkan perdebatan antara ahli dan masyarakat. Struktur batu-batu besar yang tampak berundak dan tidak biasa ini menarik perhatian sejak beberapa bulan terakhir.

Batuan tersebut berada di lereng bukit di kawasan Igir Karem dengan elevasi sekitar 791 meter di atas permukaan laut, dan bentuknya disebut-sebut menyerupai susunan struktur buatan manusia. Namun hingga kini, tidak ada penelitian resmi yang menyatakan bahwa formasi ini merupakan bangunan kuno atau hasil aktivitas manusia purba.
Sejumlah pemerhati sejarah dan masyarakat lokal menduga batuan tersebut bisa jadi merupakan jejak peradaban masa lampau, seperti struktur punden berundak atau bangunan ritual serupa situs-situs di wilayah lain. Narasi ini semakin kuat karena bentuk sederet batu tampak teratur dan berbeda dari kelokan batu biasa.

Sementara itu, pandangan geologi mengatakan bahwa struktur batu di Igir Karem lebih mungkin merupakan fenomena alam yang terbentuk dari proses geologi kompleks. Secara umum, batu-batu di wilayah ini termasuk dalam karakteristik batuan di kawasan pegunungan bagian utara Kabupaten Purbalingga, yang dikenal memiliki struktur geologi seperti sesar, lipatan, dan rekahan akibat gaya tektonik aktif di Pegunungan Serayu Utara.
Meski beberapa orang menyebutnya mirip columnar joint — struktur yang terbentuk saat lava yang mendingin retak membentuk kolom — para pakar geologi menekankan bahwa bentuk batuan Igir Karem belum menunjukkan pola kolom teratur seperti yang umum dikenal dalam ilmu geologi.
Keberadaan batuan ini kini menjadi daya tarik baru di Karangjambu dan menyedot perhatian berbagai pihak. Masyarakat dan pemerhati berharap ada penelitian lintas disiplin antara geolog, arkeolog, dan sejarawan untuk memahami asal-usul fenomena ini secara ilmiah.
Sampai saat ini, belum ada kesimpulan resmi dari otoritas terkait mengenai apakah struktur batu ini merupakan fenomena alam unik atau jejak peradaban kuno. Warga diimbau untuk tetap menjaga kondisi kawasan agar struktur batu tetap utuh dan tidak rusak sebelum hasil penelitian lengkap dirilis.
















